Tuesday, February 23, 2016

[FILM] Watchmen


Director : Zack Snyder
Writers : 
Daid Hayter, Alex Tse
Stars : Jackie Earle Harley, Patrick Wilson, Carla Gugino
Publisher : DC Comics 


" It doesn't take a genius to see that the world has problems"

Watchmen merupakan film superhero yang diadaptasi dari komik seri Watchmen keluaran DC Comics tahun 80-an oleh penulis Alan Moore. Satu hal yang perlu dicermati adalah film superhero ini diperuntukkan penonton dewasa dan bukan untuk anak-anak.


Berlatar belakang di era alternatif di tahun 1985-an dimana keberadaan para Superhero masih eksis, dan Richard Nixon masih menjabat sebagai pimpinan negara adidaya Amerika Serikat. Konflik perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet sedang dalam masa2 puncaknya, dan para superhero dipaksa untuk mundur dari kegiatan mereka sementara beberapa lainnya masih ada yang tetap bekerja untuk pemerintah. Masalah bermula ketika seorang superhero, The Comedian tewas terbunuh secara misterius. Salah seorang anggota Watchmen yang masih aktif, yakni Rorschach (Haley) menyelidiki hal ini. Ia lalu mengingatkan anggota Watchmen lainnya, yakni Dr Manhattan/Jon Osterman (Crudup), Silk Spectre II/Laurie Jupiter (Akerman), Nite Owl II/Dan Dreiberg (Wilson), serta Ozymandias/Andrian Veidt (Goode) untuk waspada namun tidak ditanggapi dengan serius. Dalam perkembangan masalah justru berkembang semakin rumit. Dr. Manhattan dituduh menyebarkan penyakit kanker ke orang-orang dulu yang pernah dekat dengannya hingga ia memilih untuk menyendiri ke Planet Mars, dan Rorschach justru ditangkap atas tuduhan pembunuhan.


Alur plot Watchmen sendiri tidak menggunakan plot film superhero lainnya. Plot nyaris tidak pernah menggambarkan bagaimana para superhero mendapatkan kekuatannya, kecuali untuk karakter Dr. Manhattan. PJuga nyaris tidak pernah menggambarkan era gemilang para superhero dalam menumpas kejahatan. Adegan aksi pun sangat minim. Bahkan juga tidak menggambarkan dengan tegas antara sisi baik dan jahat. Para superhero digambarkan telah pensiun dari tugasnya. Alur cerita secara umum terfokus pada ancaman perang nuklir implikasi perang dingin antara AS dan Soviet, dan secara khusus pada penyelidikan Rorschach terhadap kematian seorang superhero, The Comedian. Dua plot besar ini rupanya di akhir kisah berhubungan satu sama lain. Naskah yang unik dan merupakan terobosan untuk genre superhero.

Satu hal yang unik dalam Watchmen adalah kemasan filmnya yang bergaya noir dari plot hingga pencapaian estetiknya. Layaknya film-film detektif, plotnya penuh dengan intrik, misteri, rumit, dan cenderung membingungkan hingga akhir cerita. Rasanya sulit menduga apa yang terjadi selanjutnya hingga akhir filmnya. Informasi silih berganti ditampilkan dengan cepat. Penuturan kilas-balik begitu dominan dengan durasi yang bervariasi memudahkan penonton kehilangan informasi cerita jika kehilangan momen sedikit saja.


Para superhero sepertinya telah lelah melihat dunia yang terus menerus dalam kekacauan dan ingin membuat dunia lebih damai. Jika tidak ada lagi sosok jahat maka sosok superhero-lah yang menjadi penyeimbang. Seorang superhero berkeyakinan jika umat manusia dalam sebuah ancaman besar maka dunia akan bersatu dan menjadi lebih damai. Dan tentu saja pengorbanannya tidak kecil. Lantas apa bedanya ini dengan aksi terorisme? Rorschach harus menerima nasibnya ketika ia memegang teguh prinsipnya. “Ini yang membedakan kita dengan orang lain”, ujarnya tegas. Sebuah konsep baru untuk film dengan genre superhero, tapi tidak lantas membuat konsep ini menjadi benar. Coba lihat siapa yang diuntungkan dengan situasi damai yang tercipta?

Verdict : 8,9/10

Tuesday, February 9, 2016

[KOMIK] Avengers Vs X-Men


Writer :  Brian Michael Bendis, Matt Fraction, Ed Brubaker
Penciller : John Romita Jr., Adam Kubert, Jim Cheung
Inkers : Various
Publisher : Marvel Comics

That's the thing about the Phoenix. 
There always has to be destruction... 
Before rebirth"

Phoenix Force, entitas yang merupakan sumber kekuatan maha dahsyat sedang bergerak menuju bumi. Phoenix Force terus bergerak dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Sementara itu Nova, bergegas datang ke bumi untuk memperingatkan bumi tentang kedatangan Phoenix Force.

Sementara itu, di Utopia (pulau khusus untuk tempat tinggal mutant), Cyclops (Scott Summers) melatih keras Hope Summers, cewek yang lahir bersamaan dengan perginya Phoenix, dan diramalkan bakal menjadi vessel Phoenix yang baru yang dapat memberikan era baru bagi para mutant.

Kedatangan Phoenix ditanggapi berbeda baik dari X-Men maupun Avengers. Bagi X-Men, kekuatan luar biasa Phoenix diyakini adalah penyelamat ras mutant dari kepunahan akibat event House of M. Phoenix bisa saja mengubah realitas sehingga ras mutant dapat bangkit kembali, ataupun menjadi sumber kekuatan bagi ras mutant untuk memulihkan populasi mutant di bumi. Sedangkan bagi Avengers, Phoenix adalah ancaman bagi keselamatan bumi. Karena di setiap kedatangan Phoenix, bumi selalu dalam ambang kehancuran sehingga mereka memutuskan untuk mencegah kedatangan Phoenix kembali ke Bumi.

Avengers mengirim tim yang dipimpin Thor untuk mencoba menghadang kedatangan Phoenix. Captain America mendatangi Wolverine untuk mengonfirmasi Hope sebagai vessel Phoenix. Cap datang ke Utopia untuk meminta Scott menyerahkan Hope, untuk mencegah kekuatan besar yang berpotensi menghancurkan kehidupan di bumi. Sementara Scott berkeras bahwa kedatangan Phoenix akan memberikan hal positif, memberikan kekuatan yang membuat mereka bisa menciptakan era baru dan masa depan cerah untuk mutant.

Perselisihan pun tak bisa dihindarkan. Avengers Assemble, seluruh anggota Avengers pun muncul dan siap bertarung dengan para X-Men.


Tim Avengers luar angkasa ternyata tidak luput dari intervensi X-Men nya Cyclops. Sempat terjadi pertarungan di Bulan, akhirnya Phoenix Force pun tiba. Tony Stark berhasil menembakkan Phoenix Killer untuk menghancurkan Phoenix Force, namun hasilnya ternyata di luar dugaan. Pecahan Phoenix Force sempat ingin merasuk Hope, namun Hope dapat menolaknya. Pecahan Phoenix Force justru malah merasuk 5 sosok X-Men yaitu Namor, Magik, Colossus, Emma Frost, dan Cyclops, melahirkan entitas baru yang disebut Phoenix Five.

Dengan premis awal seri ini seharusnya punya potensi besar untuk menjadi event terbaik Marvel. Hanya saja setiap chapter terasa berantakan dan tidak terbangun dengan baik. Salah satu masalah utama dari seri ini adalah terlalu banyak Tie-Ins yang harus dibaca untuk betul betul memahami seluruh jalan cerita. Alih alih membiarkan pertarungan Avengers vs X-Men secara alami, konflik disini malah terlingat terburu-buru, akibatnya setiap tindakan dari kedua kubu terkesan tanpa alasan dan terkadang tidak masuk akal. Salah satu hal yang juga cukup mengganggu adalah ketidak konsistenan dari artwork, saya pribadi bukan penggemar art John Romita Jr, panel-panel yang seharusnya menggambarkan pertarungan epik malah terlihat seperti pertarungan Low-Budget B-Movie. Tidak ada kesan epic yang dapat dirasakan.


Dengan potensi besar yang akhirnya disia-siakan oleh penulisan yang terburu-buru, dan artwork yang tidak konsisten membuat seri ini menjadi seri yang sedikit mengecewakan, bukan berarti buruk, hanya saja butuh kerja keras untuk menikmati ceritanya.

Verdict : 6,5/10

Friday, February 5, 2016

[KOMIK] Batman - The Court Of owls


Writer : Scott Snyder
Penciller : Greg Capullo
Inkers : Jonathan Glapion
Publisher : DC Comics
“Beware The Court of Owls, 
that watches all the time, 
ruling Gotham from a shadowed perch"

Batman adalah superhero dengan deretan villain terbaik, period. Bane, Joker, Ras Al Ghul, Catwoman, The Riddler, Two-Face dan segudang lainnya lagi. Para penulis komik bebas mengangkat salah satu karakter musuh Batman dan tinggal menggali aspek lain dari sang musuh untuk menghasilkan sebuah klasik baru. Akan tetapi begitu banyaknya musuh yang memorable bagi Batman membuat para penulis juga kesulitan memperkenalkan musuh yang baru baginya. Dua tambahan yang memorable didapatkan oleh sang manusia kelelawar mungkin adalah Harley Quinn (dari Batman: The Animated Series) dan Hush (dari komik dengan story arc berjudul sama). Scott Snyder melakukan karya yang berani di sini dengan memperkenalkan kepada pembaca musuh baru bagi Batman: The Court of Owls.


The Court of Owls konon adalah sebuah grup bawah tanah, sebuah persekutuan rahasia yang selama berabad-abad telah menguasai kota Gotham. Semua orang di Gotham mengenalnya tetapi semua juga tak mempercayainya lebih dari sekedar dongeng belaka, termasuk Bruce yang percaya bahwa ia telah tahu setiap seluk beluk dari kota Gotham seperti telapak tangannya. Begitu percaya dirinya Bruce bahkan ketika ia mendapatkan ancaman pembunuhan dari kelompok The Court of Owls yang memiliki pembunuh bayaran bernama Talon pun ia tak ambil pusing terlalu banyak. Percaya diri yang kelewat berlebihan ini pada akhirnya menjadi kejatuhan bagi Batman. Akankah ia selamat sebab jangan lupa… musuh alamiah dari para kelelawar adalah… burung hantu.


Story arc pertama inilah yang menunjukkan kejeniusan Scott Snyder. Hanya dalam satu story arc ini saja kita dibuat langsung jatuh cinta dengan gaya penulisannya. Cara penulisan dari Snyder  merupakan campuran di tengah-tengah antara Morrison dan Johns. Cara penulisannya secara pas mencampurkan metafora-metafora dari Morrison dan gaya penulisan yang langsung pada sasaran dan sederhana ala Johns. Hasilnya terasa sangat pas untuk menunjukkan sosok Bruce yang kompleks tanpa membuat pembaca bingung mengenainya. Kehebatan Snyder tak berhenti sampai di sana tetapi juga pada bagaimana ia menyulam masuk sejarah The Court of Owls ke dalam puluhan dekade lebih sejarah Batman; bukan hal yang mudah.


Tandem dari Scott Snyder di sini adalah Greg Capullo, ia melakukan tugasnya dengan hebat di setiap panel komik ini. Cara Capullo mengubah gaya gambarnya secara subtle membuat setiap edisinya terasa seperti memanjakan mata. Nuansa gothic dan dark dalam komik ini bercampur campur aduk tanpa membingungkan pembaca tapi memberikan kesan chaotic; sebuah kesan yang menarik kita para pembaca dalam kegelisahan seorang Batman yang terperangkap ala boneka yang dimainkan tanpa daya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat – sangat lama kita merasa bahwa Batman – yang biasanya tergambar bahkan lebih sempurna dari Superman – terasa… rentan.

 The Court of Owls pada masa depan nanti akan masuk dalam satu dari grup paling mematikan yang pernah dihadapi sang kelelawar!

Verdict : 9,3/10