Monday, April 25, 2016

[KOMIK] House Of M




Writer : Brian Michael Bendis
Penciller : Olivier Coipel
Inkers : Tim Townsend
Publisher : Marvel Comics

No More Mutans"
-Scarlett Witch

Event ini terjadi setelah Avengers Disassembled. Berfokus kepada Wanda Maximoff aka Scarlet Witch. Seorang mutant dan juga seorang Avengers. Anak dari Magneto dan saudara kembar dari quicksilver. Dikisahkan setelah grup Avengers terpecah dan beberapa anggotanya mati karena kejatuhan mental dari Scarlet Witch. Avengers dan X-Men sepakat untuk percaya bahwa Scarlet Witch adalah seorang mutant yang sangat berbahaya bila keadaan mentalnya tidak stabil, maka Avengers dan X-Men ingin menangkap dan menahannya sampai dipastikan bahwa Scarlet Witch bukan lagi menjadi sebuah ancaman.


Rencana ini kemudian menjadi bumerang karena Scarlet Witch yang berada di bawah tekanan mengubah realita menjadi sebuah realita baru di mana manusia (homo sapiens) adalah makhluk yang jumlahnya sedikit dibandingkan dengan para mutant (homo superior). Ketika semua superhero tidak pernah ada, dan tidak seorangpun mengingat apa yang telah terjadi, kecuali satu orang ; Wolverine.

Terbangun di samping Raven Darkholme (Mystique), Wolverine terkejut. Dia sadar, ini bukan realita yang dia kenal. Ketika melihat keluar, dia dapati dunia yang benar-benar berbeda. Dunia dimana Mutan yang berkuasa, sedangkan manusia (sapiens) dalam ambang kepunahan. Kenyataan yang berbalik. Dunia yang begitu diinginkan oleh para mutan benar-benar terjadi, walau dengan cara yang sangat picik.


Yang begitu berkuasa di dunia yang berbeda ini adalah House of M. Rumah Magnus. Sebuah keluarga besar yang dipimpin langsung oleh Magneto, dan kedua anaknya Scarlet Witch dan Quicksilver. Keluarga besar yang berdiri di atas semua hal lainnya.Ini membuat para mutant yang menjadi mayoritas lantas kemudian menindas para manusia. Dengan bantuan Layla Miller, tim Wolverine dan yang lain mulai terbentuk. Satu per satu Superhero menyadari kenyataan yang sebenarnya. Marah luar biasa terhadap Scarlet Witch dan Magneto yang telah memanipulasi kenyataan. Bersiap melawan balik menuju House of M.


Sedikit demi sedikit wolverine berhasil mengajak superhero lainnya untuk mengetahui realita sebenarnya dan berencana menyerang House of M. Dalam proses penyerangan tersebut Magneto yang mengetahui realita sebenarnya pun kalap dan mengakibatkan terbunuhnya Quicksilver. Melihat saudara kembarnya terbunuh, Scarlett witch pun murka. Chaos Magic bergejolak. Hanya 3 kata terucap dari mulutnya.


"No More Mutans"
Semua kembali ke realita yang asli. Tapi mereka semua kembali dalam sebuah kenyataan pahit. Mutan yang dulunya jumlahnya puluhan ribu bahkan jutaan orang, hampir semuanya telah hilang. Individunya masih hidup, tapi kekuatan mutan mereka lenyap. Mereka semua menjadi manusia biasa. Mutan yang selamat dari Chaos Magic Scarlet Witch bisa dihitung jari. Saat itulah para mutan benar-benar merasa mereka di ambang kepunahan.

Apa yang membuat event ini luar biasa versi alternatif universe dari Brian Michael Bendis ini memberikan premis menarik bagaimana jika para mutant yang selama ini tertindas akan bertindak bila kondisinya dibalik? Rupanya sang tertindas berbalik menjadi penindas, membuat kita bertanya-tanya apakah pada dasarnya mutant dan manusia sama saja? Siapa yang lebih banyak menindas dan membedakan mereka yang lebih sedikit?

Verdict : 8,9/10

Sunday, April 24, 2016

[FILM] Constantine




Director : Francis Lawrence
Writers : 
Kevin Brodbin
Stars : Keanu Reeves, Rachel Weizs, Shia LaBeouf, Tilda Swinton.
Publisher : DC Comics / Vertigo


" God always had a rotten sense of humor. And His punchlines are killers. "
-John Constantine

Diangkat dari komik berjudul Hellblazer terbitan DC/Vertigo, Film ini mengisahkan tentang John Constantine. Dilahirkan dengan anugrah / kutukan nuntuk melihat dan menyadari kehadiran malaikat dan iblis meskipun mereka sedang menyamar dalam wujud manusia biasa. Hal ini menyebabkan constantine kecil frustasi dan memutuskan untuk melakukan bunuh diri.

Sayangnya ia selamat dari kematian dan harus hidup. Sebagai hukuman akibat bunuh diri ia dihukum untuk tinggal di neraka suatu saat nanti. Constantine yang gila merokok (sampai kena kanker paru-paru!) sehari-hari punya pekerjaan memburu iblis dan juga menerima panggilan untuk mengusir iblis atau setan kembali ke neraka, yang mencoba mengganggu ketentraman dunia manusia dengan cara menyusup ke dalam tubuh seseorang.
  

Menjelang akhir hidupnya karena penyakit paru parunya yang semakin memburuk, John bertemu dengan seorang detektif, Angela Dodson yang memminta bantuannya dalam mengungkap kematian saudara kembarnya yang menurutnya terjadi secara misterius.

Rasa penasaran Angela untuk mencaritahu motif kematian saudara kembarnya membuat Angela menemui Constantine untuk membantunya mencari dan menyelesaikan masalah supranatural yang dihadapinya. Surga dan neraka terletak di bumi, dibalik tembok-tembok bangunan dimana dimensi tersebut tidak terlihat oleh manusia. Para iblis tidak dapat masuk ke dimensi manusia tetapi hanya dapat mempengaruhi pikiran manusia melalui mahkluk keturunan iblis yang berfisik manusia. Itulah aturan lama yang harus dipatuhi oleh iblis. Tidak hanya makhluk keturunan iblis tetapi juga ada makhluk keturunan malaikat berfisik manusia yang membawa kebaikan untuk menjaga keseimbangan di bumi. Tetapi aturan lama itu mulai dilanggar oleh iblis. Dan ternyata bahwa kasus supranatural yang dihadapi Constantine dan Angela ternyata juga melibatkan konspirasi persekongkolan antara malaikat Gabriel dengan putra raja neraka Lucifer bernama Mamon yang juga mencoba masuk ke dimensi manusia.


Constantine tampil cukup dark, lebih kelam, penuh kejutan layaknya film horror. film ini sangat sarat dengan elemen-elemen yang cukup mengerikan dan penuh kejutan. Bahkan unsur kejutan itu sudah dimulai sejak film diawali dengan penemuan tombak takdir (spear of destiny) di daerah Mexico oleh penduduk setempat. Selanjutnya, ketegangan dan berbagai kejutan hadir mewarnai hingga ujung film. Apalagi semua itu masih didukung oleh efek visual yang cukup menakjubkan.

Setting kota yang ditampilkan, dan dengan suasana kelam semakin menambah kesan mistis dari film ini. Yang cukup menarik ialah ketika Constantine melakukan ritual untuk berkunjung ke neraka, latar waktu berubah menjadi cepat, membuat kita percaya bahwa 2 menit disana rasanya seperti seumur hidup.


Kehadiran Rachel Weisz yang berperan sebagai Angela Dodson cukup menyegarkan ketegangan yang merayap sepanjang film. Angela minta bantuan Constantine untuk menyingkap kasus bunuh diri yang dilakukan oleh saudara kembarnya, Isabel Dodson (diperankan juga oleh Rachel Weisz). Ada adegan menarik antara Angela dan Constantine ketika si polisi cewek itu harus direndam dalam bathtub agar kembali bisa melihat alam lain seperti masa kecilnya. Dengan adegan slo-mo dramatis, menontonnya seperti mengingat film The Matrix.

Yang menarik dari film ini adalah muatan yang terkandung dalam dialog-dialog dan elemen-elemen pendukung sepanjang film. Sekilas sepertinya semuanya sarat dengan muatan-muatan kepercayaan dari agama tertentu, tapi di sisi lain tidak sedikit muncul sindiran-sindiran yang malah mempertanyakan sejumlah konsep keagamaan. Dan ini tidak terbatas dalam dialognya saja. Constantine yang menolak anjuran Gabriel untuk cukup percaya saja kepada ‘seseorang’ agar masuk surga, Constantine yang menolak mengkambinghitamkan iblis sebagai penyebab adiknya Angela bunuh diri, masuk surga atau neraka bukan sudah ditentukan terlebih dahulu tetapi tergantung tindakan seseorang (Constantine yang dari awal dicap Gabriel menjadi penghuni neraka tiba-tiba bisa masuk surga karena tindakannya yang rela berkorban), hingga dugaan konspirasi adanya taruhan terhadap nasib manusia. Muatan yang cukup berat namun membuat film ini jadi ‘berisi’.  


Dengan perolehan Box Office yang cukup lumayan hingga sepuluh tahun lebih sampai saat ini, sekuel Film Constantine tak kunjung dibuat, Bahkan proyek Justice League Dark yang menjadi League untuk Constantine dkk dalam ranah supranatural DC pun sempat harus ditunda. Semoga bukan untuk 10 tahun kedepan. Semoga.

Verdict : 7/10

Sunday, March 6, 2016

[FILM] Avengers - Age Of Ultron


Director : Joss Whedon
Writers : 
Joss Whedon
Stars : Robert Downey Jr. Chris Evans, Mark Rufallo, Samuel L. Jackson,
Publisher : MARVEL Comics 


" ...there are no strings on me"
-Ultron

Pasca pembubaran SHIELD di Captain America: The Winter Soldier, berkaca dari serangan besar besaran alien di The Avengers, juga sebagai langkah antisipasi awal untuk melawan serangan alien yang kemungkinan terjadi di masa mendatang, Tony Stark memiliki inisiatif menciptakan keamanan global, yang merupakan kecerdasan buatan yang disebut Ultron. Ultron proyek robot penjaga perdamaian karya Tony Stark yang rencananya bertugas untuk membasmi kejahatan dibumi, termasuk menghancurkan sisa-sisa Hydra. Masalah kemudian muncul ketika Ultron memiliki selft aware, dan menganggap bahwa ancaman sesungguhnya adalah manusia itu sendiri.  Ultron beranggapan cara satu satunya membuat bumi damai adalah dengan memusnahkan ras manusia.


 Ultron versi awal mengambil tubuh Iron Legion sebagai host, kemudian keluar dari lab di Gedung Avenger dan mengancam Avenger. Ultron versi awal ini memang sukses dihancurkan oleh team avenger, namun Software AI dari ultron lepas kendali ke internet. Team Avenger pun marah kepada Tony stark karena proyek Ultron tidak didiskusikan terlebih dahulu. Melarikan diri dengan tongkat scepter, Ultron menggunakan sumber daya di dasar Sokovia Strucker untuk meng-upgrade tubuhnya yang belum sempurna dan membangun sebuah tentara robot drone. Ultron pun kemudian merekrut si kembar Maximoff (Scarlett Witch & Quicksilver). Sementara Ultron terus mengupgrade diri dan pasukannya, tim Avengers yang tercerai mencari perlindungan dan menghimpun kembali kekuatan untuk menghadapi Ultron...


Dengan tingginya pencapaian The Avengers pada 2012 lalu, Whedon tentu ingin memuaskan ekspektasi semua orang. Age of Ultron memberikan penonton sebuah sajian visual yang memanjakan mata. Adegan aksi dirancang dan dieksekusi dengan baik. Penggunaan efek CGI yang melimpah tentu memanjakan pecandu film aksi yang suka melihat aksi adu kekuatan super, adegan kerusakan, gedung runtuh, dan ledakan disana-sini. Ada banyak aksi adu kuat disini, namun yang paling menarik adalah pertarungan antara Iron Man dalam kostum Hulkbuster vs Hulk. Seperti karakter superhero di dalam filmnya, tentunya tidak mudah untuk bisa menyatukan para bintang top dalam sebuah film. Namun Joss Whedon mampu melakukannya. Ia kembali menjadi sutradara sekaligus penulis skenario. Di Avengers: Age of Ultron ia mampu melakukannya dengan baik.


Disini Joss Whedon mencoba menggali lebih dalam karakter-karakter yang ada, terutama untuk tokoh Hulk, Black Widow, dan Hawkeye. Trio yang hingga saat ini tidak memiliki film yang berdiri sendiri. Penting memang, hanya saja penggalian karakter ini menurut saya cukup mengambil waktu. Alhasil sedikit mempengaruhi kelancaran arus bercerita. Whedon juga memberikan sentuhan unik di dinamika hubungan antara Black Widow dengan Hulk. Black Widow kini berperan menjadi "Hulk whisperer". Selain itu Whedon juga memberikan bumbu-bumbu romansa di antara mereka berdua. Hal yang menarik namun terkadang agak terasa canggung. Terutama jika mengingat adanya percikan antara Captain America dan Black Widow di film The Winter Soldier. 
Walaupun sebenarnya saya cukup menikmati film ini, saya merasa alur ceritanya kurang koheren. Terasa terseret-seret. Dari satu kejadian langsung meloncat ke kejadian lain, tanpa motif yang kuat. Antara satu adegan dengan adegan lain digabung-gabungkan dengan paksa agar berujung pada adegan puncak: konfrontasi langsung para Avengers dengan Ultron.   


Mungkin film ini belum bisa melampaui pencapaian film pertamanya. Setidaknya masih mampu menyamai. Age of Ultron masih merupakan film yang menghibur. Memang sih, siapa yang bakal mempermasalahkan plot untuk popcorn movie seperti ini. Meskipun demikian film ini penuh dengan aksi-aksi yang menyenangkan untuk ditonton serta dipenuhi oleh humor-humor lucu yang tidak pernah terasa akan habisnya. Sebagai film terakhir Avengers bagi Joss Whedon, ini adalah usahanya yang maksimal sebagai pengantar yang baik namun tak cukup memuaskan untuk film Avengers berikutnya.

 Verdict : 7,8/10